You are here: Home Artikel

Artikel Batik

Mengenali Motif Awal Batik

E-mail Print PDF

"Ketiadaan referensi tertulis mengenai koleksi motif atau corak batik tradisional menyebabkan kesenjangan pengetahuan antar generasi. Masalah akan muncul ketika generasi tua tak sempat menurunkan seluruh ilmunya kepada generasi muda. Kesenjangan ini menimbulkan ketidak mengertian generasi muda akan kekayaan warisan masa lalu. Kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya batik Jawa kaya akan corak dan motif, yang jumlahnya bisa mencapai ribuan," begitu tulisan dalam siaran kepada pers saat peluncuran buku Teknik Ragam Hias Batik Yogya dan Solo yang berlangsung di Restoran Palalada, Grand Indonesia Shopping Town, Kamis, 10 Maret 2011.

Konon, pola batik sudah ada dalam masyarakat Indonesia sejak abad XII di Kediri, Jawa Timur. Namun, ternyata pola batik pun pernah ditemukan pula di Mesir Kuno sejak abad IV SM, juga ada di China, sejak tahun 618-794. Tetapi tidak ada literatur khusus yang mengungkapkan hal ini. Belum banyak pula literatur yang menerangkan secara pasti arti dari motif dan corak batik yang sudah berkembang begitu banyaknya, mungkin saat ini jumlahnya mencapai ribuan.

Tak ingin motif batik beserta kearifan dan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya hilang, seorang intelektual Jawa, Ir Sri Soedewi Samsi, menuliskan sebuah buku bertajukTeknik Ragam Hias Batik Yogya dan Solo. Dalam buku tersebut, Ibu Dewi, begitu ia biasa disapa, berniat mengekalkan pola batik lewat bukunya agar generasi muda Indonesia bisa mempelajari dan melestarikan warisan leluhur.

Sejak tahun 1970-an, Ibu Dewi telah mengumpulkan corak dan motif batik tradisional. Ia berkeliling dari desa ke desa di Yogyakarta dan Solo untuk mencari ciri khas corak batik desa setempat. Dari penelusurannya itu, wanita yang kini berusia 81 tahun ini biasanya hanya menemukan kain batik siap pakai, seperti selendang, kain panjang, taplak, dan sebagainya. Dari kain-kain tersebut Ibu Dewi mempelajari lekuk, garis, dan ornamen yang ada di dalamnya untuk kemudian diterjemahkan dalam bentuk gambar atau pola. Dibantu seorang peggambar pola batik asal Jawa, Mangundikarso (almarhumah), Ibu Dewi menggambar ulang tiap motif secara detail dan menamainya sesuai nama yang dikenal masyarakat, kemudian dikelompokkan sesuai jenisnya.

Perjalanan sejak tahun 1970-an tersebut membawa Ibu Dewi meluncurkan buku ini bersama Titian Foundation dan Bank Panin. Buku ini terbagi menjadi 2 bagian, di halaman awal, Ibu Dewi menceritakan mengenai cara aspek teknis dari batik dan cara pembuatannya, mulai dari alat-alat yang digunakan, bagaimana cara menggambar garis dan pola, metode pewarnaan, dan resep kimia, hingga sedikit sejarah tentang batik. Di bagian kedua, beliau menggambarkan pola-pola batik yang pernah ia temui di daerah Yogyakarta dan Solo yang ia bagi lagi menjadi 2 bagian: geometris dan non-geometris yang digambarkan dengan ukuran asli.

Dalam buku yang berisi sekitar 600 halaman tersebut terdapat sekitar 370 corak atau motif batik dari ribuan koleksi yang ada. Ibu Dewi yang lulusan Teknik Kimia ini juga mencatat begitu banyaknya desain turunan dari motif-motif awal. Contohnya, motif parang dan kawung, yang ditemukan ibu Dewi kini setidaknya ada 60 jenis motif parang turunan, seperti parang harjuno, parang sisik, parang srimpi, dan sebagainya. Atau kawung, yang ditemukan oleh ibu Dewi, setidaknya terdapat sekitar 23 jenis variasi kawung, seperti kawung gringsing, kawung picis, kawung ukel, dan lainnya.

Buku ini awalnya hanya dicetak 1.000 buah, sebanyak 800 akan disebarkan ke sekolah-sekolah, perajin batik, dan lainnya. Sisanya akan dijual dengan harga Rp 390.000. "Di bulan April akan dicetak lagi dalam bahasa Inggris, itu harganya beda lagi. Yang 200 untuk dijual ini saja mungkin akan langsung habis," ujar Anton Diaz, penulis gaya hidup sekaligus bagian dari panitia peluncuran buku ini.

Ibu Dewi, yang pernah menjabat sebagai Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Kerajinan dan Batik serta rektor IKIP Yogyakarta ini mengungkap ingin bukunya ini bisa dimengerti dan banyak dijiplak siapa pun yang berminat terhadap batik, bekerja di industri pembatikan, terutama industri batik rakyat. "Motif-motif ini milik rakyat dan akan saya kembalikan lagi ke rakyat. Tugas saya hanya mengumpulkan dari berbagai pelosok, merekonstruksi dan menggambarkan ulang dalam bentuk yang siap pakai agar masyarakat bisa menjiplaknya dengan mudah," begitu tutur ibu Dewi.

 

sumber: abduh1.blogspot.com

Last Updated ( Monday, 14 March 2011 07:00 )
 

Cara Tepat Merawat Batik

E-mail Print PDF
Sebagai orang Indonesia, Anda setidaknya punya minimal satu kemeja atau busana batik. Tapi tahukah Anda bagaimana cara mencuci dan menyimpannya? Batik membutuhkan perawatan khusus agar tak cepat rusak. Coba tips berikut ini.

Batik terbuat dari sejenis lilin yang dinamai malam. Pewarnaan alami yang digunakan dalam proses pembuatan batik menyebabkan ia harus dirawat dengan serius.

Banyak orang yang membersihkan busana batik mereka dengan drycleaning, padahal bahan kimia dalam drycleaning akan memudarkan warna asli batik. Kerusakan yang sama dapat ditimbulkan oleh deterjen dalam pembersihan dengan mesin cuci. Bagaimana pun juga, upaya terbaik membersihkan batik adalah dengan membersihkannya dengan tangan.

Gunakanlah sabun dan shampoo dalam air hangat. Saat ini sudah banyak yang menjual 'deterjen' khusus untuk batik. Hilangkan noda membandel dengan irisan lemon. Untuk mengeringkan batik Anda, gantunglah di tempat yang terlindung sinar matahari dan jangan peras busana batik anda.

Anda bisa mempertahankan pesona warna busana batik dengan menyimpannya dengan seksama. Caranya, lapisi busana batik anda dengan kain katun saat menyetrikanya. Agar warna busana batik tidak bercampur saat disimpan di lemari, lapisi busana batik dengan kertas minyak (jangan gunakan koran karena tinta koran bisa menodai batik), gulung dan gantunglah di lemari baju Anda.

Dengan cara yang tepat dalam membersihkan, mengeringkan, menyetrika, dan menyimpan, busana batik Anda bisa tahan lama dan awet keindahannya. Kini, Anda pun bisa menganggap busana-busana Anda sebagai investasi pribadi.

sumber: http://abduh1.blogspot.com

Last Updated ( Tuesday, 01 March 2011 09:41 )
 

Batik Tradisional Madura Bisa Punah

E-mail Print PDF
batik madura
Motif batik tradisional Madura, Jatim, bisa punah, jika para perajin dan pengusaha batik tergiur mengikuti tren motif batik soft, yakni motif batik yang cenderung diminati pasar akhir-akhir ini. "Motif batik dengan warna dan tulisan yang soft akhir-akhir ini memang yang paling banyak diminati oleh konsumen batik tulis," kata pengusaha batik asal Pamekasan, Madura, Surayya Salla.

Motif batik ini, kata dia, merupakan jenis motif batik yang sudah tidak membedakan etnik antara satu daerah dengan daerah lain. Seperti motif batik tulis Madura, Solo dan Yogyakarta.

"Artinya motif batik tulis soft ini sudah lintas daerah dan lintas etnik," terang Surayya, Jumat (25/2/2011). Di satu sisi, sambung dia, keinginan pasar yang seperti itu memang cenderung menguntungkan, karena para pedagang dan perajin batik memiliki kesempatan yang sama untuk memasarkan hasil kerajinannya. Namun di sisi lain, identitas daerah cenderung punah.

Padahal, kata Surayya yang juga aktivis Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) ini, batik, khususnya batik tulis bukan hanya hanya kerajinan semata, namun juga merupakan karya seni dan hasil kreasi budaya anak bangsa.

"Jika identitas daerah hilang, seiring dengan kecenderungan pasar global yang diinginkan para konsumen batik, maka nilai budaya juga akan luntur," ucap Surayya. Sebagian perajin yang masih memiliki kepedulian mempertahankan identitas etnik daerah, kini tetap berupaya memasukkan identitas daerah terhadap motif batik yang menjadi keinginan pasar akhir-akhir ini.

"Kalau kami tetap berupaya memasukkan sedikit motif batik Madura dengan menambah gambar bunga berwarna terang seperti ini," paparnya sambil menunjuk jenis unsur bunga yang menurutnya sebagai identitas etnik batik tulis Madura.

Batik bermotif soft, yang kini menjadi kecenderungan permintaan pasar, sebenarnya merupakan fase ketiga dalam pasaran dunia batik di Indonesia dan dalam skala internasional. "Tren awal batik tulis itu semi kontemporer, lalu motif batik kontemporer dan kini ke motif batik soft," katanya.
motif sekar jagad
Motif Sekar Jagat
Menurut Surayya batik tulis Madura, sebenarnya memiliki beragam motif, bahkan mencapai seratus motif batik lebih. Antara lain motif sekar pote, sekar mangkok, bing-tabing, dan sekar jagat. Namun dari ratusan motif batik itu, yang paling banyak diminati oleh konsumen ialah motif batik sekar jagat.

"Soalnya semua gambar bunga ada pada motif batik
Last Updated ( Saturday, 26 February 2011 07:11 )
 

Kereta Api Berbatik

E-mail Print PDF

Kereta Api Berbatik

Ada banyak cara untuk mengapresiasi batik. PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) pun tak mau ketinggalan untuk ikut mempromosikan batik.

Perusahaan milik negara yang menjadi operator sepur ini menghiasi gerbong kereta api Parahyangan dengan motif batik. Kepala Humas PT KAI Daops II Bambang S Prayitno mengatakan, pemasangan stiker batik di gerbong kereta merupakan salah satu bentuk apresiasi pihaknya terhadap kesenian batik. Apalagi saat ini batik sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan asli Indonesia.

Selain itu, dia berharap kereta yang dihiasi batik itu dapat menjaring lebih banyak penumpang. Rencananya, kata dia, kereta tersebut akan didaftarkan ke Museum Rekor Indonesia (Muri).

Last Updated ( Sunday, 13 February 2011 07:59 )
 

'Rumitnya' Proses Batik

E-mail Print PDF

mbatik Selama ini kita mengenal batik hanya dari melihat motifnya saja. Kalau ada pakaian dengan motif dan warna tertentu kita biasanya langsung bisa 'men-vonis' bahwa itu batik atau bukan. Namun jarang diantara kita yang bisa membedakan apakah 'batik' itu adalah batik original atau batik sablon/batik cetakan.

Sebuah busana dikatakan batik jika pada proses pembuatan motifnya menggunakan malam (lilin). Apakah prosesnya dengan menorehkan canting atau menggunakan tembaga sebagai cap asalkan menggunakan malam (lilin) maka karya itu adalah batik original.

Sedangkan yang non malam (non lilin), maka 'batik' itu adalah non original alias bukan batik. Hanya motifnya saja yang meniru motif batik.

Untuk lebih mengenal batik original ada baiknya kita mengetahui bagaimana sebuah karya batik tercipta. Dengan mengetahui kita bisa membayangkan bagaimana rumitnya batik yang kita kenakan dihasilkan. Dan kita bisa menghargai dan memaklumi kalau harga yang harus kita keluarkan setara dengan panjangnya proses pembuatannya.

Proses pengerjaan batik demikian unik sekaligus rumit. Setidaknya ada 12 tahap. Tahap pertama nyungging, yaitu membuat pola/motif pada kertas. Tahap kedua njaplak: memindahkan pola dari kertas ke kain. Tahap ketiga nglowong, yaitu pelekatan malam dengan canting sesuai dengan pola.

Tahap keempat ngiseni, yaitu pemberian motif isen pada pola utama. Tahap kelimanyolet, yaitu memberi bagian tertentu dengan warna. Tahap keenam mopol, atau menutupi bagian yang dicolet dengan malam. Tahap ketujuh ngelir: Pewarnaan secara menyeluruh. Tahap kedelapan nglorod, yaitu penghilangan malam dengan merendamnya di air mendidih. Tahap kesembilan ngrentesi: Pemberian cecek (titik) pada klowongan. Tahap ke-10 nyumti, yaitu menutupi bagian tertentu dengan malam. Tahap ke-11 nyoga, atau pencelupan kain dengan warna sogan. Tahap ke-12 nglorod, penghilangan malam dengan merendamnya di air mendidih.
Jadi masihkah kita berfikir membuat batik original itu sederhana?

sumber : pribadi, kompas

foto : kisihati
 

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135
Page 6 of 9