You are here: Home Artikel

Artikel Batik

Batik masuk kurikulum sekolah mode Italia

E-mail Print PDF

 

oefia--sebuah sekolah mode tertua di Italia-- tertarik dengan batik Solo, Indonesia, dan berencana memasukkan desain mode dengan bahan kain batik ke dalam kurikulum pelajarannya. 

Direktur Artistik Koefia, Bianca Lami, beserta Wakil Ketua DPRD di Lazio, Italia Raffaele D` Ambrosio mengatakan bahwa pihaknya mengetahui Solo sebagai pusat batik dari internet, Selasa.

"Saya tahu dari internet bahwa Solo merupakan ibukota batik. Di sini banyak industri batik, bahkan saya dengar ada kampung dengan nama batik. Saya ingin melihatnya secara langsung," katanya.

Ia mengatakan, bahwa pihaknya akan mengajarkan desain fesyen batik kepada siswanya selama tiga tahun. Hal ini dikarenakan pihaknya melihat batik sebagai warisan budaya dunia yang diakui Unesco dari Indonesia dan bisa menjadi tren fesyen baru nantinya. 

"Kami ingin mengembangkan fashion heritage. Ini sekaligus untuk menggabungkan budaya Solo dengan budaya Eropa dan saya kira hasilnya akan sangat bagus," kata dia.

sumber:  abduh1.blogspot.com 

Last Updated ( Thursday, 03 May 2012 09:48 )
 

Antara Nilai Filosofis Batik Tradisional dan Inovasi Batik Modern

E-mail Print PDF

Dalam sebuah pementasan wayang nilai filosofis sebuah cerita sebagian besar disampaikan dalam bentuk ujaran dan gerakan . Dalam pelantunan lagu macapat nilai filisofis disampaikan dalam bentuk lirik dan lagu. Dalam sehelai batik tiap goresan canthing adalah lukisan penuh makna dari sang pembatik. Tiap motif adalah simbolisasi dari sebuah peristiwa besar yang dituangkan dalam bentuk gambar.


Batik selama beberapa tahun terakhir seolah-olah mengalami suatu masa reinassance. Pakaian batik yang sebelumnya hanya digunakan pada kesempatan-kesempatan tertentu, sekarang menjadi jamak dikenakan dalam berbagai kesempatan. Para designer dan majalah-majalan mode ramai-ramai mengangkat batik sebagai tema utama sehingga booming fashion batik terjadi.


Kebangkitan luar biasa terjadi dalam industri batik di berbagai daerah . Kota-kota sentra batik seperti Solo, Yogya, Cirebon, Pekalongan, Lasem menjadi begitu hidup seiring bergeliatnya industri batik dalam negri. Modernisasi terhadap berbagai batik pun terus terjadi berbanding lurus dengan meningkatnya permintaan barang dan pesaingan bisnis antar produsen batik. Effeknya inovasi-inovasi terus berkembang dan batik terus dimodifikasi dan dimodernisasi.


Di kota Solo dikenal dua jenis batik, yang pertama batik kratonan dan batik saudagaran. Batik Saudagaran adalah batik yang diproduksi oleh para pengusaha batik, misalnya di daerah kauman dan laweyan. Batik yang diperdagangkan bebas dan dipakai oleh orang kebanyakan termasuk dalam batik jenis ini. Yang kedua batik larangan, adalah batik yang hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan dalam acara-acara tertentu. Keberadaan batik ini tertutup karena hanya boleh dikenakan oleh kalangan tertentu dalam Keraton. 



Adapun batik yang sekarang beredar luas dan dianggap merupakan motif larangan sebenarnya belum tentu merupakan batik larangan yang sesungguhnya, karena yang benar-benar mengetahui tentang batik larangan hanyalah keluarga Raja, jelas Quintanova.

Berkenaan dengan nilai filosofis batik asal Surakarta Drs. Sabar Narimo menjelaskan lebih lanjut tentang hal tersebut.


Gagrag Surakarta Hadiningrat adalah sebutan motif batik asal Kraton Surakarta Hadiningrat. Terdapat sekitar 317 motif yang berasal dari wilayah Kraton Surakarta, itu belum termasuk motif batik pada kain jarit yang saat ini banyak diangkat untuk batik-batik modern.


Sebelum menciptakan sebuah motif batik, sang pembuat batik menjalani proses yang dinamakan lelaku dimana ia merenungi suatu peristiwa dan mengamati keadaan sekitarnya. Hal itu yang menyebabkan tiap lekuk motif batik dan tiap goresan canthing memiliki makna mendalam jika dibedah. Nilai filosofis batik tidak hanya terdapat pada latar belakang sejarah penciptaan suatu motif semata. Nilai pendidikan batik juga tercermin dari cara pemakaian dan waktu pemakaian.

Motif batik memiliki nilai eksklusifitas yang berbeda-beda artinya tidak semua orag dapat menggunakan suatu motif batik. Batik larangan adalah sebutan bagi batik yang hanya boleh digunakan oleh keluarga Raja atau bangsawan. Lereng atau Parang adalah salah satu contoh motif larangan.

Berikut adalah beberapa motif batik dan penjelasan singkatnya:
1. Batik Parang atau lereng menurut pakem nya hanya boleh digunakan oleh sentono dalem ( anak dari ratu). Lereng berasal dari kata mereng (lereng bukit). Sejarah motif ini diawali ketika terjadi pelarian keluarga kerajaan dari Kraton Kartasura. Para keluarga Raja terpaksa bersembunyi di daerah pegunungan agar terhindar dari bahaya

 

2. Jenis batik Truntum dipakai saat seseorang menggelar pesta hajatan. Motif truntum sendiri ditemukan oleh Istri dari Pakubuwana V. Saat itu beliau sedang menjalani hukuman karena melanggar peraturan kerajaan. Pada suatu malam beliau merenung dan memandangi langit berbintang yang ada di angkasa kemudian beliau menuangkan apa yang dia lihat dengan chanthing sehingga menjadi motif batik truntum.

 

3. Batik Sido Mukti dipakai oleh pasangan pengantin. Sida mukti sendiri melambangakan sebuah harapan, jadi seketika sepasang pengantin menggunakan kain sidamukti maka muncul keinginan untuk mencapai kehidupan baru yang berhasil atau dalam bahasa jawa disebut mukti.

 

4. Batik Sido Drajad dipakai oleh besan ketika upacara pernikahan

 

Cara pemakaian batik juga memiliki nilai pendidikan tersendiri, berikut adalah beberapa uraian dari cara pemakaian kain batik.

Bagi anak-anak batik dipakai dengan cara sabuk wolo. Pemakaian jenis ini memungkinkan anak-anak untuk bergerak bebas. Secara filosofis pemakaian sabuk wolo diartikan bebas moral, sesuai dengan jiwa anak-anak yang masih bebas dan belum dewasa dan belum memiliki tanggungjawab moral di dalam masyarakat.


Ketika beranjak remaja maka seseorang tidak lagi mengenakan batik dengan cara sabuk wolo melainkan dengan jarit. Panjang jarit yang dipakai memiliki arti tersendiri. Seamakin pajang jarit maka semakin tinggi derajad seseorang dalam masyarakat. Semakin pendek jarit maka semakin rendah pula strata sosial orang tersebut dalam masyarakat.


Bagi dewasa pemakaian batik memiliki pakem tersendiri antara laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki wiru diletakkan di sebelah kiri. Sedangkan pada wanita wiru diletakkan di sebelah kanan, yang berarti nengeni. Artinya seorang putri tidak boleh melanggar kehendak suami.


Batik Modern


Mungkin selama ini masyarakat masih rancu dengan apa yang disebut dengan batik modern. Quintanova, salah satu pengamat batik sekaligus panitia SBC, menjelaskan istilah modern dalam konteks batik dapat dilihat dari beberapa segi:


Yang pertama modern dalam arti motif dan yang kedua modern dalam teknis pembuatan. Contoh modernisasi motif diantaranya memadukan dua motif batik dalam satu kain misalnya perpaduan antara lereng dengan kawung menjadi motif lereng-kawung. Batik kontemporer bahkan mengaplikasikan motif-motif modern atau bahkan abstrak dalam kain yang diproses dengan teknis pembuatan batik.


Modern yang kedua adalah dalam hal teknis. Batik printing adalah salah satu bentuk modenisasi teknis pembuatan batik. Namun istilah batik printing yang dikenal masyarakat sebenarnya bukan termasuk batik karena tidak melalui tahapan pembuatan batik. Proses pembuatan batik secara singkat harus melalui beberapa tahap, penggambaran motif, pelapisan dengan malam, pewarnaan, dan terakhir proses lorot (penghilangan malam). Tanpa proses tersebut sebuah kain tidak bisa dikatakan batik tetapi hanya tekstil yang bermotif batik. 



Inovasi lain dalam hal teknis pembuatan adalah dengan printing malam seperti yang dilakukan di Desa Wisata Batik Kliwonan dimana malam yang panas dicetak pada sebuah kain secara massal. Dengan proses ini dimungkinkan membuat batik dengan jumlah besar dan dalam waktu singkat tetapi tidak menyimpang dari aturan proses pembuatan batik.

Perlu Inovasi agar batik bisa bertahan


Hal ini senada dengan yang diungkapkan Arifatul Uliana, putri Solo tahun2009, batik modern merupakan usaha agar batik lebih memasyarakat. Demi menjangkau konsumen kaum muda batik yang modern keberadaan batik modern memang sangat perlu. Dengan motif yang bervariasi maka kaum muda tidak lagi enggan menggenakan kain batik dan perlahan-lahan stereotype batik sebagai pakain untuk yang lebih “senior” bisa terkikis. 



Menurut Uli pakem filosofis batik tidak harus dikorbakan walaupun proses modernisasi terus terjadi. Nilai filosofis batik bisa dipertahankan dengan menciptakan motif baru dengan pakem-pakem yang sudah ada. Tanpa variasi dan modernisasi batik akan terkesan monoton, dan tidak bisa bertahan membudaya sampai saat ini.

Edukasi Pertahankan Nilai Filosofis Batik


Para pencipta motif batik baru perlu lebih berhati-hati dalam menuangkan kreasinya, paling tidak seorang creator motif batik memiliki pengetahuan dan literature tentang batik-batik terdahulu. Agar motif batik yang diciptakan tidak menyalahi aturan dan pakem yang telah ada.

Batik yang saat ini menjadi trend mode sesunguhnya adalah suatu modal untuk memperkenalkan sejarah dan filosofis batik pada masyarakat. Edukasi budaya diperlukan agar ketika seseorang mengenakan batik dia tidak hanya mengenakannya dengan alasan trend fashion semata tetapi dengan diiringi kesadaran bahwa batik adalah warisan budaya yang patut untuk dilestarikan.

Upaya edukasi nilai filosofis batik dapat dilakukan dengan membawa batik ke sekolah baik dalam bentuk pelajaran intrakulikuler ataupun ekstrakulikuler. Dengan upaya tersebut generasi muda khususnya pelajar menjadi mengenal batik secara lebih mendalam. Sehingga di masa depan batik tetap berjaya. Pameran batik yang digelar perlu lebih menekankan pada pengenalan nilai sejarah batik, tidak hanya pengenalan sekilas tentang kain batik saja tanpa ada tidak lanjut yang lebih mendalam.

Jangan sampai aset budaya yang tak ternilai harganya hilang bersama hilangnya kepedulian kita untuk nguri-uri budaya sendiri.Dengan usaha-usaha tersebut booming trend batik tidak akan luntur seiring bergantinya trend busana.


sumber:  abduh1.blogspot.com

 

Sabun Cuci untuk Batik

Bagaimana agar busana batik anda tetap berwarna prima dan tidak kusam untuk waktu yang lama?
Tentu saja jawabannya adalah pada perawatannya. Dan perawatan terpenting pada pakaian adalah bagaimana cara mencucinya, sabun apa yang dipergunakan, dan bagaimana cara pengeringannya pasca dicuci.

 sabun batik

Untuk pakaian batik sangat dianjurkan TIDAK menggunakan deterjen ketika mencuci. Deterjen tidak cocok untuk baju batik dan baju-baju bagus yang lain. Disamping itu deterjen juga merusak lingkungan karena mengandung bahan kimia seperti fosfat, silikat, dan pewarna yang berbahaya bagi kelestarian air.

Supaya pakaian batik tetap awet, tidak kusam, dan tahan lama kami perkenalkan Sabun Perawatan Batik NOC.. Sabun ini memakai Sapindus Rarak de Candole atau populer dengan sebutan Lerak alias Lamuran sebagai bahan baku. Lerak adalah pohon dengan kualitas kayu yang setara dengan kayu jati dan banyak tumbuh di pulau Jawa dan Sumatra.

Biji pohon Lerak mengandung Saponin yang menghasilkan busa dan berfungsi sebagai bahan pencuci dan pembersih.
 
Sabun Lerak tak hanya ramah lingkungan, tapi juga ampuh membersihkan kotoran dan mengawetkan warna pakaian. Sabun Lerak paling cocok untuk mencuci kain batik guna menjaga kualitas warna dan kain. Sabun Lerak juga sangat bagus dipakai untuk mencuci kain berwarna non batik agar tidak mudah kusam. Sabun lerak NOC berbentuk cair sehingga sangat mudah dan praktis penggunaannya.
 
Harga eceran Rp 20.000, isi: 250 ml
Untuk reseller kami beri diskon 31,25 %.
 

 

 

Batik Harus Punya Cerita

E-mail Print PDF

Menciptakan sebuah batik yang memiliki nilai tinggi memang tidak mudah. Pasalnya, si pembatiknya harus dimodali ilmu spiritual dan kemampuan visualisasi.

Pendapat itu dilontarkan desainer kondang Iwan Tirta, di sela-sela pagelaran busana Himpunan Ratna Busana di Cascade Lounge Hotel Mulia Jakarta, akhir Maret 2008. Menurut pemilik nama lengkap Nusjirwan Tirtaamidjaja, batik itu jangan bagus hanya dari tampilannya saja, tetapi juga harus ada isinya atau punya cerita.

"Kalau mau tahu batik itu bagus atau tidak, bisa kita lihat dalam jarak tiga sampai empat meter. Kita lihat pengulangan warna ataupun motif yang tertera pada material bahannya," kata Iwan kepada okezone.

Selama proses mencipta batik, Iwan mengaku pikiran harus dikosongkan. Karena kalau pikiran ke mana-mana lantas membatik, hasilnya pasti tidak sesuai harapan.

Saat mau membatik pun Iwan selalu menetapkan waktu khusus, pagi atau malam. Alasannya pun sederhana, dirinya tidak mau diganggu oleh orang lain. "Pikiran harus kosentrasi," ujar lulusan School of Economic's, London dan School of Oriental and African Studies itu pendek.

Untuk menyelesaikan satu lembaran kain batik, Iwan bisa menghabiskan waktu dua sampai tiga bulan. Ukuran kainnya pun biasanya berbeda-beda, tergantung untuk keperluan apa. Semisal untuk kain, bahan yang dibutuhkan bisa sampai dua meter tiga per empat, sementara untuk dress bisa empat meter dan kain sari sepanjang enam meter.

"Namun hanya karena alasan bisnis, kini banyak orang yang masih tidak jujur atau mengelabuhi orang lain. Mereka sebenarnya menjual batik cap atau print, tetapi mengaku batik tulis. Itulah yang harus diperhatikan baik-baik saat membeli kain batik," saran peraih penghargaan dari Presiden Republik Indonesia Upakarti (1990) dan Adikarya Wisata (1992).

Mengenai batik yang kini ditampilkan lebih ramai dengan imbuhan detail, Iwan mengatakan bahwa tidak harus begitu untuk menampilkan batik itu indah.

"Batik yang bagus tidak perlu ditampilkan secara berlebihan. Tetapi kalau harus diberi macam-macam detail seperti payet, itu pasti batiknya yang murahan. Tapi kenyataannya, masih banyak masyarakat yang memilih tampilan yang semakin ramai akan semakin oke," pungkas pria kelahiran 18 April 1935, di Blora, Jawa Tengah.

sumber: abduh1.blogspot.com dari okezone

 

Batik Asli, atau Kain Bermotif Batik?

E-mail Print PDF
Produk batik bisa ditemui di pasar grosir hingga mal termewah di Jakarta. Harganya bervariasi, mulai "seratus ribu tiga" hingga jutaan rupiah. Namun, di jaman ketika batik digembar-gemborkan sebagai warisan budaya dunia, ada baiknya Anda tak sekadar memilih baju batik berdasarkan kecantikan motifnya. Coba teliti juga apakah batik yang Anda pilih merupakan batik asli atau tekstil bermotif batik.

Yang dimaksud batik asli adalah batik yang dikerjakan secara manual menggunakan lilin malam. Ada sembilan jenis batik asli, seperti dijelaskan Wakil Walikota Pekalongan, Alma Facher, yakni batik tulis, cap, kombinasi tulis dan cap, sablon malam tulis, sablon malam cap, sablon malam cap tulis,printing tulis (manual bukan pabrikan), printing cap, dan kombinasi printing cap tulis.

Ciri yang paling mudah dikenali saat memilih batik asli adalah corak dan desainnya tidak sama. Gambar bunga, misalnya, tak selamanya sama dalam satu bahan sekalipun. Selain itu, batik asli biasanya limited edition, atau tidak diproduksi dalam jumlah banyak.

Sedangkan jenis batik yang tidak mendukung konsep batik, sebenarnya hanyalah tekstil bermotif batik. Atau, kain yang diberi motif batik. Karena lebih murah, batik seperti ini seringkali dibuat massal.
Mungkin agak membingungkan bagi orang awam, namun filosofi ini mesti dikenali masyarakat awam jika tak ingin mempermalukan bangsa, kata Alma.

"Boleh saja bilang pakai batik, namun jika ternyata yang dipakai hanya tekstil bermotif batik akan mempermalukan negara, bukan? Padahal batik yang diakui sebagai heritage oleh UNESCO adalah batik yang proses pembuatannya secara manual," papar Alma.

Sayangnya, 50 persen batik yang beredar di pasaran adalah tekstil bermotif batik, bahkan pada batik dengan brandternama yang sering Anda lihat di mal sekalipun. Jika sekadar ingin mengoleksi dan mencari yang murah, sah juga membeli batik. Tetapi setidaknya, pilihlah batik cap atau kombinasi yang harganya pun lebih terjangkau.

Jadi jika ingin mendukung batik untuk melestarikan budaya, teliti sebelum membeli. Pastikan batik tersebut asli, meski kadang harganya lebih mahal. Namun sebaiknya Anda juga memahami, mahalnya harga batik asli disebabkan keahlian sang perajin, dan lamanya waktu yang digunakan untuk memproses batik tersebut.
 

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 129

Warning: Illegal string offset 'active' in /home3/sevenfol/public_html/rumahbatik.com/templates/ja_mesolite/html/pagination.php on line 135
Page 5 of 9